Juliana Ojong, seorang warga Kelurahan Cideng, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat, sukses menjadi pegiat Eco Enzyme Nusantara dengan menggencarkan pengolahan sampah organik menjadi cairan multimanfaat, eco enzyme.
"Kami lebih penanganan untuk pilah dan olah sampah organik, khususnya organik bersih, kulit buah ataupun kulit sayur yang belum masak, untuk menjadi cairan multimanfaat yang disebut eco enzyme," ujar Juliana, Kamis (5/11).
Awalnya, Juliana tergerak untuk mengolah sampah organik mulai sekitar tujuh tahun lalu. Sebagai seorang vegetarian, atau individu yang tidak memakan daging hewan, ia menyadari banyaknya sampah sayur dan kulit buah yang ia hasilkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, saat itu, ia belum memahami cara memilah ataupun mengolah sampah organik, misalnya melalui biopori atau menjadi kompos. Hingga akhirnya, Juliana mendengar terkait produk yang dinamakan eco enzyme.
Juliana kemudian mencoba untuk membuat dan menggunakannya sebagai pengganti pembersih lantai. Salah satunya ketika rumah lama dan vihara tempat ia beribadah terdampak banjir.
"Saya menggunakan eco enzyme itu untuk membersihkan rumah dan vihara dan ternyata luar biasa sekali. Tanpa memakai kimia ataupun sabun-sabun dari luar ternyata bisa bersih dan bau-baunya juga semua sudah hilang," ucap Juliana.
Tak hanya untuk lantai, Juliana menyebut cairan ini bisa digunakan untuk membersihkan hal-hal lainnya, mulai dari mencuci piring, tangan, baju, hingga mengelap kompor dan dapur.
Padahal, bahan yang digunakan dari bahan alami seluruhnya, yakni bekas kulit buah, air, dan gula merah. Juliana pun sempat menjelaskan cara pembuatan cairan eco enzyme tersebut.
"Resep 1 kg gula, 3 kg kulit buah, dan 10 liter air dalam wadah plastik yang 20 liter. Atau pakai galon juga bisa. Kalau pakai galon ada tips dan triknya, memakai penutupnya itu tidak ditutup tapi di di-cover dengan plastik dan dikaretkan selama 1 bulan," ujar Juliana.
Juliana mengatakan pembuatan 10 liter atau satu wadah eco enzyme saja sudah dapat mengelola sebanyak 3 kg sampah organik. Sampah organik itu juga tidak hanya bersumber dari rumah, tapi bisa didapat melalui kolaborasi dengan penjual di pasar atau penjual produk berbahan buah di jalan.
"Tahun ini saja kami sudah lebih dari 20 ton. Seluruh Indonesia itu lebih ya, karena di Jakarta sendiri April kemarin sudah 14 ton bersama DLH DKI dan Sekolah Adiwiyata. Nah, belum lagi satu rumah kami ini saja satu minggu sudah 2,4 kilo," kata Juliana.
Hingga kini, Juliana menyebut Komunitas Eco Enzyme Nusantara telah menggaet sebanyak 691 anggota resmi. Di luar itu, peserta yang mengikuti informasi dari media seperti WhatsApp dan Zoom Meeting bahkan menurutnya telah mencapai lebih dari 7.000 orang.
Juliana merupakan salah satu peserta Pilah Olah Sampah Heroes 2026. Program ini diadakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik).
Tujuan dari program ini adalah untuk mengapresiasi para pahlawan lingkungan, entah itu penggerak atau key opinion leader (KOL), yang memiliki aksi nyata dan mengajak warga lainnya untuk ikut peduli sampah.
Kini, program tersebut telah berada di tahap verifikasi lapangan. Dalam tahapan ini empat juri teknis akan mengunjungi peserta secara langsung untuk melihat upaya lingkungan yang mereka telah lakukan.